Berkendara di Malam Kelam

Secara non-proporsional, jumlah kecelakaan dimalam hari lebih besar dibandingkan kecelakaan disiang hari. Oke, oke, malam hari memang yang “bawa” kendaraan lebih sedikit dibandingkan dengan siang hari, secara logis memang jumlah kecelakaan lebih sedikit. Jumlah-nya memang lebih sedikit tapi secara prosentase dibandingkan dengan kendaraan yang ada dijalanan pada waktu-waktu tersebut, lebih besar kemungkinan kecelakaan diwaktu malam. Got it ? “A disproportionately high rate of accidents occure between dusk and down”

Yang paling mudah diidentifikasi tentang penyebab besarnya rasio kecelakaan malam hari adalah, jelas, gelap. Heh, maksudnya kurang cahaya dimalam hari. Ya iya laahh… malam gitu loch. Baca dari salah satu hasil riset orang Amrik, National Safety Council (NSC) yang mengatakan bahwa 90 persen reaksi pengendara motor itu tergantung dari apa yang dilihat oleh si pengendara motor. Apalagi kalau si pengendaranya adalah orang-orang yang sudah “mulai ber-umur”, atau papi-papi dan opa-opa kita. Karenanya, kalau mau “jalan” malam, yang harus siap ya itu, mata-nya dulu.

Dengan jalanan yang kurang cahaya penerangan (seperti jalan-jalan antar kota atau propinsi), gelap-gelapan, lampu depan yang kurang mantap, tambah lagi yang bawa motor udah papi-papi, walah… ya sudah, jelas sangat berbahaya jalanan seperti itu, layaknya berperang di medan yang gelap gulita. Berperang melawan motor-motor lain (apa lagi belakangan ini banyak motor tanpa lampu sama sekali, rongsokan amit-amit) yang bercampur dengan mobil-mobil kecil-besar sampe truk-truk raksasa ber-ton-ton, kadang kala hewan-hewan macam kucing-anjing atau kambing yang justru aktif dimalam hari (err.. kayak kelelawar aja). Semua musuh-musuh itu harus diperangi di malam hari. Dan sungguh, yang berpihak sama kita cuma dewi kantuk… sigh.

Wow, banyak juga musuhnya ya. Seorang optometrist (seorang yang ahli dalam bidang kemampuan pandang, sistem penglihatan dan mata) dari amrik, juga seorang biker, Dr. Diana Risko mengatakan “Retina mata itu biasanya di-”desain” untuk situasi yang terang”, lanjutnya “Hanya sekitar 15 persen dari reseptor cahaya di mata itu dipergunakan dalam kegelapan. Suasana gelap akan membuat pupil mata membesar, dan sorotan cahaya dari mobil yang datang dapat mematikan sementara reseptor-reseptor yang ada dalam mata, menjadikan apa yang anda lihat hanyalah berupa kilasan cahaya putih saja.”, tambahnya “Astigmatism (mata buram) sesaat saat di sorot lampu dari depan biasanya dirasakan, setelah cahaya berlalu mata akan kembali ter-koreksi. Hanya saja, kalau terlalu sering, keburaman bisa menjadi permanen.” Itu kata dokter biker…. Seperti memandang matahari….

Sebelum papi, opa, om, tante, bro, sis menjadi khawatir, ada beberapa cara dan tips yang bisa diperhatikan dan diamalkan saat matahari terbenam.

Persiapan.
Yang paling gampang untuk mempersiapkan diri menghadapi hari yang gelap adalah, mempersiapkan tunggangan anda. Maksudnya, setelah cimot (cuci motor) he he, lakukan pengecekan pada sistem kelistrikan, terutama pada lampu-lampu. Pastikan, lampu besar hidup, lampu rem belakang hidup, lampu sein berfungsi. Kalo motor papi atau opa menggunakan windshield, itu windshield hendaknya dilap dan dibersihkan paling tidak dua kali seminggu. Kaca helm juga demikian.

Kalau berkendara menggunakan helm full-face, yakinkan kalau kaca helm-nya bebas gores dan juga embun. Kaca yang baret-baret menyebabkan bias cahaya menyebabkan cahaya kecil menjadi besar dan menutupi penglihatan, kaca yang melengkung (peang) menyebabkan 1 titik cahaya berubah menjadi 2 atau lebih titik. Dua titik cahaya mobil jadi kelihatan empat titik… he he.. lebay. Ganti aja kacanya kalau sudah begini mah. Naaaahh untuk urusan embun, saya ada tips… anda bisa menghilangkan embun dengan menggunakan resep lama, caranya lepas kaca helm, pergunakan saliva anda, cuih… kebagian dalam kaca helm, lap dengan kain yang bersih dan abrakadabra !!! Lapisan anti kabut instan !!! … yay… jijay bajay… Okey okey… ampuun. Ya sudah, mbak-mbak yang gak suka jijik-jijik, boleh beli shaving cream sebagai ganti saliva. sigh… Kalau mau anti-fog yang beneran, anda bisa beli di toko-toko asesori motor.

Buta oleh Cahaya
Perlu diingat, kesilauan biasanya tergantung pada yang punya mata. Pengendara motor yang berumur punya mata yang lebih sensitif dibandingkan mata anak muda, jadi, kalau menurut anak muda, lampu depan putih (biru) terang benderang terlihat “keren”, lampu tersebut akan sangat menyilaukan bagi papi dan opa. Jadi, kalau anda pake lampu depan yang sangat terang, cobalah untuk bertenggang rasa. Cahaya lampu yang terlalu terang justru membutakan orang-orang yang seharusnya anda minta perhatiannya. Ingin nge-dim untuk minta jalan, justru bikin orang yang di-dim menutup mata. Wadaw.

Lampu-lampu HID banyak dipergunakan pada motor-motor dan mobil. Kalau sudah terpasang, saat diatas motor, anda akan sangat menikmati terangnya lampu dan juga luasnya jangkauan cahaya. Kalau anda duduk dimotor yang datang dari arah berlawanan, maka anda akan berpikir sebaliknya, anda akan memaki dan mengumpat karena kesilauan. Sebagai nasihat umum, jangan pergunakan lampu jauh kalau anda berada dibelakang kendaraan lain, karena menyilaukan pengendara di depan oleh pantulan spion, dan juga saat ada kendaraan dari arah berlawanan. Latih pandangan malam anda untuk memanfaatkan lampu kendaraan didepan anda sebagai penuntun.

Lebih Pelan
Karena perjalanan malam mengurangi jarak dan kualitas penglihatan, anda sebaiknya berkendara lebih berhati-hati dan berjalan lebih pelan. Lebih susah memang menentukan kondisi jalan dimalam hari, lubang yang besar dan jelas terlihat disiang hari terkadang susah terlihat dimalam hari. Arah jalan juga lebih susah diketahui apalagi di jalan-jalan menikung perbukitan. Selalu awas dan siap untuk melakukan pengereman darurat. Jika anda ragu, jangan lakukan. Manfaatkan lampu dari kendaraan lain dan juga lampu motor anda untuk mengetahui kondisi jalan.

Dalam tikungan, bersiap-siap untuk antisipasi kalau-kalau tikungannya ternyata sangat tajam, selalu awas melihat cahaya yang timbul dari balik tikungan.

Tentukan Posisi
Jangan terlalu lama dibelakang truk besar atau dalam blind-spot kendaraan lain. Jadikan diri anda terlihat. Bagian tengah jalan mungkin posisi yang terbaik bila memungkinkan, karena jika anda terlalu kepinggir anda akan menyatu dengan lampu-lampu yang hidup dipinggir jalan. Selalu memberi ruangan ekstra saat anda berdekatan dengan kendaraan lain, sehingga anda bisa mengantisipasi apabila kendaraan tersebut melakukan gerakan yang tidak diduga.

Istirahat lah.
Gak perlu dikasih tau, semua juga tau, kalau tidak baik berkendara dalam keadaan lelah, apa lagi ngantuk. Perjalanan naik motor yang terlalu jauh akan menyebabkan anda kelelahan dan membuat anda berpindah ke “auto pilot”, dimana otak secara naluriah mengontrol aktifitas berkendara namun kesadaran anda mulai redup, refleks mulai hilang dan kemampuan untuk mengenali bahaya mulai berkurang sampai akhirnya benar-benar … “off” (fatigue). Snack dan makanan kecil, serta pelemasan (stretching) dapat menolong meringankan kelelahan.

Terlihat.
Gunakan selalu pakaian yang menyala dan mencolok, pakaian yang terang, mencolok dan memantulkan cahaya akan menjadikan anda mudah terlihat dalam kegelapan. Mobil-mobil yang membuntuti anda dari belakang akan melihat punggung anda, maka jadikan punggung anda mencolok. Mobil dari samping akan melihat sisi-sisi anda, maka jadikan tangan dan sisi pakaian anda mencolok. Anda bisa membeli pita-pita sticker di toko-toko asesoris motor, bilang saja “bang, beli sticker 3M dong”…10 ribu rupiah satu roll, murah kan ? lilitkan disekitar pakaian anda sebelum perjalanan malam. Atau anda bisa lakukan seperti yang mereka lakukan di http://www.streetglo.net/.

Oh ya, jangan lupa, hidupkan selalu sein jika anda ingin berbelok atau menikung, hingga orang lain bisa mengetahui niat anda. Jika mau nge-rem, anda bisa mencoba mengedipkan rem.

Menyala-lah
Seperti yang anda ketahui, lampu dari motor anda merupakan senjata utama dimalam hari. Hal-hal kecil seperti membersihkan kaca lampu, mika rem atau mengganti bohlam lampu dapat memberikan efek yang besar. Memberi lampu tambahan seperti lampu putih ekstra juga baik karena menjadikan anda dapat melihat kedepan dengan baik. HID juga demikian selama anda secara santun dalam penggunaannya.

Atur-atur
Motor yang baru anda beli mungkin memilikan setting dimana lampu terlalu turun atau terlalu naik. Coba baca buku manual pemilik, dan cari cara untuk mengatur ketinggian sorotan lampu. Mungkin anda butuh obeng ? Ehm… ada yang nanya, harusnya kita pasang lampu seberapa tinggi sih om ? Wedew, gak ada aturan khusus dan tertulis untuk ini (terima kasih pada Bro Wisnu Yudha Pratama yang mengkoreksi kami, bahwasannya ada PP yang mengatur jarak jangkauan lampu, namun tidak secara detil mengatur ketinggian sorotan. Silahkan baca ulasannya dibagian akhir artikel ini.), pokoknya asal tidak terlalu tinggi dan menyilaukan pengendara lain baik secara langsung atau memantul, dan kalau pendapat saya pribadi, pokoknya asal cahaya bisa menerawang minimal 4 detik kedepan. Lho, kalau gitu, dalam kecepatan tinggi lampunya harus menyorot jauh kedepan dong om ? kalau lampu anda sudah tidak bisa menerangi 4 detik didepan, berarti motor anda sudah telalu kencang dik.

Mata-mata

Yang terpenting, lagi, periksalah mata anda. Sebentar saja mengunjungi dokter mata untuk periksa, walau anda merasa normal, tidak ada salahnya. Jika anda mudah merasa silau atau buram jika terkena cahaya maka hendaknya anda tahu bahwa anda harus lebih berhati-hati. Jika anda pengguna kaca mata, saat berkendara sebaiknya anda menggunakan lensa kontak, karena tidak mengganggu kaca helm saat penggunaannya.

Pokoknya, jangan jadikan kegelapan sebagai penghambat anda mencapai tujuan dan kenikmatan anda berkendara. Jalanan memang medan perang dimalam hari, tapi anda pasti bisa melewatinya dengan kesadaran yang cukup tentang arti keselamatan.

Ulasan mengenai sorotan lampu depan

Bro Wisnu Yudha Pratama memberikan koreksi, thanks bro ; beliau mengatakan  ”Ada aturan khususnya koq…coba baca bener2 attachment dr gw deh….terutama pasal 30 s/d pasal 43″. Dalam email beliau ditambahkan attachment PP 44 tahun 1993 yang isinya antara lain

“Pasal 30, ayat 1 : Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf a berjumlah 2 (dua) buah, berwarna putih atau kuning muda yang dipasang pada bagian muka kendaraan dan dapat menerangi jalan pada malam hari   dengan cuaca cerah sekurang-kurangnya  40 meter ke depan kendaraan.”

“Pasal 31, ayat 2 : Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dapat menerangi jalan pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah sekurang-kurangnya :
a.   60 meter untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan lebih besar dari 40 km/jam dan tidak lebih dari 100 km/jam;
b.   100 meter untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam.”

Kalau peraturan pemerintah ini dibandingan dengan nasehat yang diberikan oleh FAST, “lampu mencakup jarak 4 detik kedepan” maka :

1. Pada 40 km/jam = 11.11 meter/detik. Dalam 4 detik maka cakupan jaraknya adalah 44.44 meter.
2. Pada 100 km/jam = 27.78 meter/detik. Dalam 4 detik maka cakupan jaraknya adalah 111.11 meter.

Saran FAST kurang lebih akurat dan sama dengan PP 44 tahun 1993 ini dan justru malah punya standar yang lebih fleksibel.

Selanjutnya, mengenai ketinggian lampu, PP ini juga mengatur ;

“Pasal 34 ayat 3 ; Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1.250 milimeter dan harus dapat dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya.”

Pasal ini tidak mengatur secara eksplisit ketinggian “sorotan” lampu depan. Disitu cuma menyebutkan “…tidak menyilaukan pemakai jalan lain”, jadi benar juga, tidak ada aturan yang eksplisit menentukan ketinggian sorotan.

Posting Oleh newm4n

oporsional, jumlah kecelakaan dimalam hari lebih besar dibandingkan kecelakaan disiang hari. Oke, oke, malam hari memang yang “bawa” kendaraan lebih sedikit dibandingkan dengan siang hari, secara logis memang jumlah kecelakaan lebih sedikit. Jumlah-nya memang lebih sedikit tapi secara prosentase dibandingkan dengan kendaraan yang ada dijalanan pada waktu-waktu tersebut, lebih besar kemungkinan kecelakaan diwaktu malam. Got it ? “A disproportionately high rate of accidents occure between dusk and down”

Yang paling mudah diidentifikasi tentang penyebab besarnya rasio kecelakaan malam hari adalah, jelas, gelap. Heh, maksudnya kurang cahaya dimalam hari. Ya iya laahh… malam gitu loch. Baca dari salah satu hasil riset orang Amrik, National Safety Council (NSC) yang mengatakan bahwa 90 persen reaksi pengendara motor itu tergantung dari apa yang dilihat oleh si pengendara motor. Apalagi kalau si pengendaranya adalah orang-orang yang sudah “mulai ber-umur”, atau papi-papi dan opa-opa kita. Karenanya, kalau mau “jalan” malam, yang harus siap ya itu, mata-nya dulu.

Dengan jalanan yang kurang cahaya penerangan (seperti jalan-jalan antar kota atau propinsi), gelap-gelapan, lampu depan yang kurang mantap, tambah lagi yang bawa motor udah papi-papi, walah… ya sudah, jelas sangat berbahaya jalanan seperti itu, layaknya berperang di medan yang gelap gulita. Berperang melawan motor-motor lain (apa lagi belakangan ini banyak motor tanpa lampu sama sekali, rongsokan amit-amit) yang bercampur dengan mobil-mobil kecil-besar sampe truk-truk raksasa ber-ton-ton, kadang kala hewan-hewan macam kucing-anjing atau kambing yang justru aktif dimalam hari (err.. kayak kelelawar aja). Semua musuh-musuh itu harus diperangi di malam hari. Dan sungguh, yang berpihak sama kita cuma dewi kantuk… sigh.

Wow, banyak juga musuhnya ya. Seorang optometrist (seorang yang ahli dalam bidang kemampuan pandang, sistem penglihatan dan mata) dari amrik, juga seorang biker, Dr. Diana Risko mengatakan “Retina mata itu biasanya di-”desain” untuk situasi yang terang”, lanjutnya “Hanya sekitar 15 persen dari reseptor cahaya di mata itu dipergunakan dalam kegelapan. Suasana gelap akan membuat pupil mata membesar, dan sorotan cahaya dari mobil yang datang dapat mematikan sementara reseptor-reseptor yang ada dalam mata, menjadikan apa yang anda lihat hanyalah berupa kilasan cahaya putih saja.”, tambahnya “Astigmatism (mata buram) sesaat saat di sorot lampu dari depan biasanya dirasakan, setelah cahaya berlalu mata akan kembali ter-koreksi. Hanya saja, kalau terlalu sering, keburaman bisa menjadi permanen.” Itu kata dokter biker…. Seperti memandang matahari….

Sebelum papi, opa, om, tante, bro, sis menjadi khawatir, ada beberapa cara dan tips yang bisa diperhatikan dan diamalkan saat matahari terbenam.

Persiapan.
Yang paling gampang untuk mempersiapkan diri menghadapi hari yang gelap adalah, mempersiapkan tunggangan anda. Maksudnya, setelah cimot (cuci motor) he he, lakukan pengecekan pada sistem kelistrikan, terutama pada lampu-lampu. Pastikan, lampu besar hidup, lampu rem belakang hidup, lampu sein berfungsi. Kalo motor papi atau opa menggunakan windshield, itu windshield hendaknya dilap dan dibersihkan paling tidak dua kali seminggu. Kaca helm juga demikian.

Kalau berkendara menggunakan helm full-face, yakinkan kalau kaca helm-nya bebas gores dan juga embun. Kaca yang baret-baret menyebabkan bias cahaya menyebabkan cahaya kecil menjadi besar dan menutupi penglihatan, kaca yang melengkung (peang) menyebabkan 1 titik cahaya berubah menjadi 2 atau lebih titik. Dua titik cahaya mobil jadi kelihatan empat titik… he he.. lebay. Ganti aja kacanya kalau sudah begini mah. Naaaahh untuk urusan embun, saya ada tips… anda bisa menghilangkan embun dengan menggunakan resep lama, caranya lepas kaca helm, pergunakan saliva anda, cuih… kebagian dalam kaca helm, lap dengan kain yang bersih dan abrakadabra !!! Lapisan anti kabut instan !!! … yay… jijay bajay… Okey okey… ampuun. Ya sudah, mbak-mbak yang gak suka jijik-jijik, boleh beli shaving cream sebagai ganti saliva. sigh… Kalau mau anti-fog yang beneran, anda bisa beli di toko-toko asesori motor.

Buta oleh Cahaya
Perlu diingat, kesilauan biasanya tergantung pada yang punya mata. Pengendara motor yang berumur punya mata yang lebih sensitif dibandingkan mata anak muda, jadi, kalau menurut anak muda, lampu depan putih (biru) terang benderang terlihat “keren”, lampu tersebut akan sangat menyilaukan bagi papi dan opa. Jadi, kalau anda pake lampu depan yang sangat terang, cobalah untuk bertenggang rasa. Cahaya lampu yang terlalu terang justru membutakan orang-orang yang seharusnya anda minta perhatiannya. Ingin nge-dim untuk minta jalan, justru bikin orang yang di-dim menutup mata. Wadaw.

Lampu-lampu HID banyak dipergunakan pada motor-motor dan mobil. Kalau sudah terpasang, saat diatas motor, anda akan sangat menikmati terangnya lampu dan juga luasnya jangkauan cahaya. Kalau anda duduk dimotor yang datang dari arah berlawanan, maka anda akan berpikir sebaliknya, anda akan memaki dan mengumpat karena kesilauan. Sebagai nasihat umum, jangan pergunakan lampu jauh kalau anda berada dibelakang kendaraan lain, karena menyilaukan pengendara di depan oleh pantulan spion, dan juga saat ada kendaraan dari arah berlawanan. Latih pandangan malam anda untuk memanfaatkan lampu kendaraan didepan anda sebagai penuntun.

Lebih Pelan
Karena perjalanan malam mengurangi jarak dan kualitas penglihatan, anda sebaiknya berkendara lebih berhati-hati dan berjalan lebih pelan. Lebih susah memang menentukan kondisi jalan dimalam hari, lubang yang besar dan jelas terlihat disiang hari terkadang susah terlihat dimalam hari. Arah jalan juga lebih susah diketahui apalagi di jalan-jalan menikung perbukitan. Selalu awas dan siap untuk melakukan pengereman darurat. Jika anda ragu, jangan lakukan. Manfaatkan lampu dari kendaraan lain dan juga lampu motor anda untuk mengetahui kondisi jalan.

Dalam tikungan, bersiap-siap untuk antisipasi kalau-kalau tikungannya ternyata sangat tajam, selalu awas melihat cahaya yang timbul dari balik tikungan.

Tentukan Posisi
Jangan terlalu lama dibelakang truk besar atau dalam blind-spot kendaraan lain. Jadikan diri anda terlihat. Bagian tengah jalan mungkin posisi yang terbaik bila memungkinkan, karena jika anda terlalu kepinggir anda akan menyatu dengan lampu-lampu yang hidup dipinggir jalan. Selalu memberi ruangan ekstra saat anda berdekatan dengan kendaraan lain, sehingga anda bisa mengantisipasi apabila kendaraan tersebut melakukan gerakan yang tidak diduga.

Istirahat lah.
Gak perlu dikasih tau, semua juga tau, kalau tidak baik berkendara dalam keadaan lelah, apa lagi ngantuk. Perjalanan naik motor yang terlalu jauh akan menyebabkan anda kelelahan dan membuat anda berpindah ke “auto pilot”, dimana otak secara naluriah mengontrol aktifitas berkendara namun kesadaran anda mulai redup, refleks mulai hilang dan kemampuan untuk mengenali bahaya mulai berkurang sampai akhirnya benar-benar … “off” (fatigue). Snack dan makanan kecil, serta pelemasan (stretching) dapat menolong meringankan kelelahan.

Terlihat.
Gunakan selalu pakaian yang menyala dan mencolok, pakaian yang terang, mencolok dan memantulkan cahaya akan menjadikan anda mudah terlihat dalam kegelapan. Mobil-mobil yang membuntuti anda dari belakang akan melihat punggung anda, maka jadikan punggung anda mencolok. Mobil dari samping akan melihat sisi-sisi anda, maka jadikan tangan dan sisi pakaian anda mencolok. Anda bisa membeli pita-pita sticker di toko-toko asesoris motor, bilang saja “bang, beli sticker 3M dong”…10 ribu rupiah satu roll, murah kan ? lilitkan disekitar pakaian anda sebelum perjalanan malam. Atau anda bisa lakukan seperti yang mereka lakukan di http://www.streetglo.net/.

Oh ya, jangan lupa, hidupkan selalu sein jika anda ingin berbelok atau menikung, hingga orang lain bisa mengetahui niat anda. Jika mau nge-rem, anda bisa mencoba mengedipkan rem.

Menyala-lah
Seperti yang anda ketahui, lampu dari motor anda merupakan senjata utama dimalam hari. Hal-hal kecil seperti membersihkan kaca lampu, mika rem atau mengganti bohlam lampu dapat memberikan efek yang besar. Memberi lampu tambahan seperti lampu putih ekstra juga baik karena menjadikan anda dapat melihat kedepan dengan baik. HID juga demikian selama anda secara santun dalam penggunaannya.

Atur-atur
Motor yang baru anda beli mungkin memilikan setting dimana lampu terlalu turun atau terlalu naik. Coba baca buku manual pemilik, dan cari cara untuk mengatur ketinggian sorotan lampu. Mungkin anda butuh obeng ? Ehm… ada yang nanya, harusnya kita pasang lampu seberapa tinggi sih om ? Wedew, gak ada aturan khusus dan tertulis untuk ini (terima kasih pada Bro Wisnu Yudha Pratama yang mengkoreksi kami, bahwasannya ada PP yang mengatur jarak jangkauan lampu, namun tidak secara detil mengatur ketinggian sorotan. Silahkan baca ulasannya dibagian akhir artikel ini.), pokoknya asal tidak terlalu tinggi dan menyilaukan pengendara lain baik secara langsung atau memantul, dan kalau pendapat saya pribadi, pokoknya asal cahaya bisa menerawang minimal 4 detik kedepan. Lho, kalau gitu, dalam kecepatan tinggi lampunya harus menyorot jauh kedepan dong om ? kalau lampu anda sudah tidak bisa menerangi 4 detik didepan, berarti motor anda sudah telalu kencang dik.

Mata-mata

Yang terpenting, lagi, periksalah mata anda. Sebentar saja mengunjungi dokter mata untuk periksa, walau anda merasa normal, tidak ada salahnya. Jika anda mudah merasa silau atau buram jika terkena cahaya maka hendaknya anda tahu bahwa anda harus lebih berhati-hati. Jika anda pengguna kaca mata, saat berkendara sebaiknya anda menggunakan lensa kontak, karena tidak mengganggu kaca helm saat penggunaannya.

Pokoknya, jangan jadikan kegelapan sebagai penghambat anda mencapai tujuan dan kenikmatan anda berkendara. Jalanan memang medan perang dimalam hari, tapi anda pasti bisa melewatinya dengan kesadaran yang cukup tentang arti keselamatan.

Ulasan mengenai sorotan lampu depan

Bro Wisnu Yudha Pratama memberikan koreksi, thanks bro ; beliau mengatakan  ”Ada aturan khususnya koq…coba baca bener2 attachment dr gw deh….terutama pasal 30 s/d pasal 43″. Dalam email beliau ditambahkan attachment PP 44 tahun 1993 yang isinya antara lain

“Pasal 30, ayat 1 : Lampu utama dekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf a berjumlah 2 (dua) buah, berwarna putih atau kuning muda yang dipasang pada bagian muka kendaraan dan dapat menerangi jalan pada malam hari   dengan cuaca cerah sekurang-kurangnya  40 meter ke depan kendaraan.”

“Pasal 31, ayat 2 : Lampu utama jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dapat menerangi jalan pada malam hari dalam keadaan cuaca cerah sekurang-kurangnya :
a.   60 meter untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan lebih besar dari 40 km/jam dan tidak lebih dari 100 km/jam;
b.   100 meter untuk kendaraan bermotor yang dirancang dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam.”

Kalau peraturan pemerintah ini dibandingan dengan nasehat yang diberikan oleh FAST, “lampu mencakup jarak 4 detik kedepan” maka :

1. Pada 40 km/jam = 11.11 meter/detik. Dalam 4 detik maka cakupan jaraknya adalah 44.44 meter.
2. Pada 100 km/jam = 27.78 meter/detik. Dalam 4 detik maka cakupan jaraknya adalah 111.11 meter.

Saran FAST kurang lebih akurat dan sama dengan PP 44 tahun 1993 ini dan justru malah punya standar yang lebih fleksibel.

Selanjutnya, mengenai ketinggian lampu, PP ini juga mengatur ;

“Pasal 34 ayat 3 ; Lampu posisi depan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), dipasang pada ketinggian tidak melebihi 1.250 milimeter dan harus dapat dilihat pada malam hari dengan cuaca cerah pada jarak sekurang-kurangnya 300 meter dan tidak menyilaukan pemakai jalan lainnya.”

Pasal ini tidak mengatur secara eksplisit ketinggian “sorotan” lampu depan. Disitu cuma menyebutkan “…tidak menyilaukan pemakai jalan lain”, jadi benar juga, tidak ada aturan yang eksplisit menentukan ketinggian sorotan.

Posting Oleh newm4n

Sumber asli (diambil sepenuhnya tanpa perubahan) dari: http: //safetyridingcourse.com/?p=256

(Sebuah artikel repost, copas, saduran, atau istilah lain yang pantas. Bukan bermaksud apa-apa, tetapi saya ingin mempopulerkan safety riding kendaraan roda dua.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s