Salah Paham/Kaprah Sudut Pandang Orang Kedua?

Jika kita belajar mengenai  analisis (memahami) Karya sastra maka kita tidak bisa lepas dari unsur intrinsik dan ekstrinsik.  Kedua unsur ini adalah unsur pembangun  karya sastra yang sangat penting.  unsur intrinsik sendiri dapat diartikan sebagai unsur  pembangun karya sastra dari dalam karya sastra itu sendiri. Sedangkan, unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu dari luar lingkup KS.

Dalam memahami unsur intrinsik terdapat unsur yang bernama sudut pandang, yang berarti posisi pengarang di dalam cerita. Di dalam menganalisis sudut pandang kita dapat memperhatikan kata ganti orang yang dipergunakan untuk menentukan sudut pandang.  Kata ganti orang merupakan ciri yang membedakan antara jenis  SP 1 da SP3, semisal:

v  penggunaan kata ganti: aku, saya, gue, kita, kami = menggunakan SP 1 (contoh 1);

v  penggunaan kata ganti: dia, ia, beliau, nama orang, mereka, = menggunakan SP3 (contoh 2).

Dari contoh di atas dapat kita lihat kedekatan/betapa pentingnya penggunaa kata ganti orang dalam  analisis sudut pandang dalam karya sastra.

Di dalam analisis KS sudut pandang yang ada adalah SP 1 dan SP2. SP1 adalah sudut pandang yang menempatkan posisi pengarang sebagai pelaku (contoh 1 adalah kata ganti SP1). SP 3 adalah sudut pandang yang menempatkan posisi pengarang sebagai pengamat (contoh 2).

Bahasa Indonesia mengenal adanya kata ganti, dan salah satu jenisnya ialah kata ganti orang. Kata ganti orang sendiri dapat diartikan sebagai kata yang meggantikan nomina/kata benda (lebih tepatnya orang). Kata ganti orang dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

v  Kata ganti orang pertama

Contoh : saya, aku, kami, kita

v  Kata ganti orang kedua

Contoh : kamu, anda, engkau, saudara, bapak, kalian

v  Kata ganti orang ketiga

Contoh : dia, ia, beliau, -nya

Mungkin Anda akan bertanya ketika membaca judul tulisan ini  Salah Kaprah SP 2. Mungkin pertanyaan semacam: Opo maksute wong iki?(Apa maksudnya orang (penulis) ini? Akan muncul dalam pemikiran Anda.

Maksud dari tulisan ini akan membahas tentang  generalisasi/penerapan rumusan/ pemahaman yang disama-samakan  yang terjadi pada jenis-jenis kata ganti orang ke jenis SP dalam karya sastra. Perhatikan tabel berikut:

No Jenis Kata Ganti Sudut Pandang Keterangan
1 Kata ganti orang pertama Sudut pandang orang pertama Benar
2 Kata ganti orang kedua Sudut pandang orang kedua ?????  (Salah)
3 Kata ganti orang ketiga Sudut pandang orang ketiga Benar

                Sering terjadi dalam pembelajaran sastra kesalapahaman berkaitan dengan pemahaman di atas sehingga menimbulkan sebuah asumsi (pandangan) yang salah berkaitan dengan SP. Kesalahpahaman yang sering muncul ialah munculnya SP 2. Hal ini terjadi karena keterikatan antara SP dengan kata ganti orang. Kita lihat antara SP1 dan SP3 dengan KGO pertama dan KGO ketiga, mereka memiliki kesamaan, yaitu: mereka memiliki kata-kata yang sama sebagai ciri/karakteristik penanda utama mereka.

No. Sudut pandang Kata ganti orang
1 SP1 KGO 1 Tunggal : saya, akujamak   : Kita, kami
1 SP3 KGO 3 Tunggal : dia, nama orang, beliauJamak: mereka

Dari kesamaan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa munculnya SP2 dimungkinkan karena adanya generalisasi terhadap pemahaman KGO 2 ke SP2, seperti yang terjadi di jenis yang lainnya. Hal itu dinilai kurang tepat atau sesuai. Kita lihat peraturan PGO2 dengan kata gantinya, yaitu: kamu, anda, engkau, saudara, bapak, kalian. Jika kita telaah secara teliti penggunaan KGO2 lebih tepat apabila digunakan dalam ragam sapaan. Berkaitan dengan SP yang notabene adalah posisi pengarang (pelaku atau pengamat) maka kata ganti orang kedua tidak aplikatif(kurang cocok untuk) diterapkan dalam gaya bercerita. Mungkin jika ada gaya penceritaan SP2 maka ragamnya  akan seperti ragam bahasa ketika menyusun sebuah petunjuk atau ragam kalimat perintah, contoh:

Kemudian Anda (kamu/engkau) terbangun dari impinya karena secerca sinar mentari yang telah mampu menjamah kulit coklat Anda (kamu/engkau) dibalik bilik-bilik bambu dindinding rumah Anda

                Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa generalisasi terhadap KGO 2 menjadi SP2 tidaklah sesuai dengan dua alas an, yaitu:

  1. Ragam KGO2 adalah ragam bahasa yang diguanakan untuk mengacu atau menyapa seorang
  2. Ragam KGO2 tidak aplikatif terhadap gaya penceritaan karya sastra, tetapi lebih mengarah keragam perintah atau petunjuk.

Keteranagan:

v  SP           : Sudut Pandang

v  KGO       : Kata Ganti Orang

4 thoughts on “Salah Paham/Kaprah Sudut Pandang Orang Kedua?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s