Penggunaan Campur Kode

 Penggunaan Campur Kode

           Nababan (1991:32) menjelaskan bahwa campur kode memiliki ciri yang utama, yaitu kesantaian atau situasi nonformal. Dalam ragam santai seseorang tidak terikat oleh peraturan-peraturan kebahasaan. Dalam campur kode kesantaian dan kebiasaan dari penutur sajalah yang dituruti (Nababan, 1991:32). Hal ini menyebabkan seseorang dapat bebas dalam memilih tuturan atau kalimat-kalimat yang akan digunakan untuk  mengungkapkan ide, gagasan, dan  pendapat mereka kepada mitra tutur. Hal inilah yang menyebabkan gejala campur kode dapat berkembang di dalam masyarakat.

            Di dalam situasi yang formal campur kode juga bisa terjadi. Nababan (1991:32)  berpendapat bahwa campur kode dalam situasi formal terjadi apabila di dalam bahasa yang sedang digunakan tidak terdapat suatu ungkapan yang tepat/ sesuai, sehingga menuntut penutur untuk menggunakan kata atau istilah asing yang benar-benar sesuai.

            Terkadang campur kode  digunakan oleh para penuturnya untuk menunjukkan gengsi, pamer, atau hanya ingin menunjukkan kepada mitra tuturnya bahwa sang penutur dapat menggunakan bahasa, dialek, atau ragam bahasa  yang lain. Nababan (1991:31-32) berpendapat bahwa kadang-kadang terdapat pula campur kode ini apabila pembicara ingin menunjukkan “keterpelajarannya” atau “kedudukkanya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s