Kedwibahasaan

Kedwibahasaan

     Nababan (1988: 27) berpendapat bahwa di dalam suatu daerah atau masyarakat di mana di dalamnya  terdapat dua bahasa,  maka daerah atau masyarakat tersebut dapat disebut dengan  daerah/ masyarakat yang berdwibahasa. Selanjutnya, Nababan menambahkan  bahwa orang yang menerapkan atau memakai dua bahasa  di dalam berkomunikasi dengan orang lain disebut dengan bilingualisme. Jadi, bilingualisme dapat diartikan sebagai kebiasaan seorang penutur untuk menggunakan lebih dari satu bahasa di dalam berinteraksi dengan mitra tutur. Apabila yang  dibicarakan adalah  kemauan atau kemampuan  seseorang untuk menggunakan dua bahasa, kita menyebut hal ini dengan bilingualitas. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan (1988: 3) yaitu bahwa kedwibahasaan adalah perihal mengenai pemakaian dua bahasa dan dwi bahasa adalah orang yang dapat berbicara dalam dua bahasa.

     Kedwibahasaan ini bukanlah suatu gejala kebahasaan. Fishman (dalam Alwasilah, 1985: 123) berpendapat bahwa kedwibahasaan  bukanlah gejala bahasa, tetapi merupakan karakteristik dari penggunaannya, dan bukan merupakan ciri kode tetapi ciri amanat. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan (1988: 2) yaitu bahwa kedwibahasaan atau bilingualisme adalah perihal pemakaian dua bahasa (seperti bahasa daerah di samping bahasa nasional).

       Di dalam suatu masyarakat yang berdwibahasa penggunaan dua bahasa itu tidak selalu dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari. Orang yang menguasai  lebih dari satu bahasa mungkin hanya  menggunakan satu bahasa dalam situasi lingkungan tertentu dan menggunakan  bahasa yang lain dalam  situasi lingkungan yang lain. Nababan (1991: 28) berpendapat bahwa tidak semua orang yang memiliki bilingualitas mempraktikkan bilingualisme dalam kehidupannya sehari-hari, sebab penggunaan dua bahasa (dalam berkomunikasi) tergantung kepada suatu situasi kebahasaan di lingkungannya.

    Walaupun demikian, di dalam masyarakat berdwibahasa tidak tertutup kemungkinan bahasa yang dikuasai oleh individu yang berdwibahasa itu saling mempengaruhi. Supardo dan Rismiyanti (2000: 3) menyatakan bahwa dua bahasa yang digunakan dalam masyarakat dwibahasa akan saling berpengaruh. Hal ini menyebabkan  munculnya gejala kebahasaan seperti campur bahasa (campur kode), interferensi, dan peminjaman.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s